Selasa, 04 Desember 2012

Rain without You

Hujan turun deras sepulang aku dari sekolah. Aku menikmati setiap langkahku bersama rintik-rintik hujan. Walau aku berjalan sendirian, tapi aku tidak merasa kesepian karna hujan menemaniku.
Sampai dirumah aku melihat ada kiriman surat di teras. "Dari siapa ya?", ku bertanya dalam hati. Aku membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membaca surat misterius itu. Setelah selesai, aku membuka surat itu dan menjadi tersipu malu setelah selesai membaca nya.

'Hay, apa boleh aku lebih mengenalmu? aku terpesona pada saaat melihat kamu. aku selalu memperhatikan gerak-gerik anehmu yang lucu bagiku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mu sampai rumah, tapi aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin tau dimana rumahmu. Siapa tau kita bisa berangkat atau pulang sekolah bareng. hehehehe. Aku janji sama kamu aku nggak bakal berbuat macam-macam sama kamu. Oiya,kalau kamu juga ingin mengenalku, besok pagi aku tunggu didepan kompleks jam 6.15 ya. I really hope you come☺'

Aku jadi penasaran, siapa dia?.

***

05.30

Aku terbangun ketika alarm jam ku berbunyi nyaring. Segera aku mandi dan sarapan lalu bersiap untuk berangkat sekolah. Tidak lupa ada ajakan dari 'dia', aku pun langsung melesat ke depan kompleks.
Ternyata benar, sepertinya 'dia; sudah sampai terlebih dahulu. Nggak tau harus ngapain memulai percakapan, iseng aku mencolek nya dan menunjukkan surat itu. Reflek dia kaget,lalu dengan segera ia melihat sepucuk surat didepannya, setelah menyadari pengirim surat itu adalah dirinya,ia pun tersenyum.
"Lo percaya suart itu?", dia bertanya tapi masih dengan senyumnya.
"Jadi ini cuma boongan? Iseng banget.", balasku.
"Hmm, gue pikir lo nggak percaya. Abis kan udah jarang ada orang yang masih percaya sama surat beginian.", ia membuang surat itu. Sepertinya dia terlalu meremehkan.
"Jadi kamu siapa?", aku mengalihkan pembicaraan.
"Gue Doni, dan lo pasti Karin.",
"Iya aku Karin, kamu tau darimana?", dia tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dalam-dalam. Aku kira ia akan mengatakan sesuatu, tapi ternyata ..
"Nggak penting. Udah yuk berangkat, nanti kita terlambat.", Aku tersentak kaget dan segera menyadari kalau tanganku sekarang sudah digandengnya, aku merasakan jantungku berdebar tidak karuan.

***

Sekolah, 12:00

Bel istirahat berbunyi, membuat anak-anak yang mendengarnya langsung pada berebut menuju kantin untuk makan siang. Terkecuali ..
"Ayo temenin gue main basket",
"Basket? Aku nggak bisa main itu. Main yang lain aja",
"Payah banget sih! Makanya sekarang temenin gue main, nanti gue ajarin.",
"Ta...taapi...",
"Bawel! udah sini.", Doni menyeretku ke tengah lapangan.
Hari ini cuaca panas terik, rasanya cahaya matahari benar-benar membakar kulit ku siang ini.
"Ayo sini rebut bolanya dari gue",
"Ihh aku gak bisa Don! kamu maksa banget sih!", Aku mengeluh kesal karna daritadi gak berhasil ngrebut bola dari Doni. Padahal sudah hampir 1jam aku mengelilingi lapangan hanya untuk merebut bola itu.
"Ayo sini Karinn. Weee", Doni sengaja meledekku.
"Rese banget sih! Udah ah aku cape!", aku pun melesat pergi menuju kelas tanpa memerdulikan Doni yang berteriak, "Karinn tunggu!!!".
---
"Kamu tuh ngerjain aku apa gimana sih?",
"Lho,siapa yang niat ngerjain lo? geer banget. Maksud gue baik tau mau ngajarin lo main basket.",
"Yatapi nggak gitu juga dong caranya. Itu mah ngerjain!",
"Yaudah deh, maafin gue ya Kar. Tapi maksud gue tadi baik kok.", nadanya penuh penyesalan.
"Hmm,iya aku maafin kok.",
"Okedeh, jadi nanti kita pulang bareng kan?",
"Eh, aku engg...",  tepat pada saat itu bel masuk berbunyi dan dia hanya melambaikan tangan berisyaratkan 'sampai nanti'.

16:00

Bel pertanda pulang sekolah berdering nyaring,aku dan Doni berjalan menuju rumah dikompleks. Ku lihat langit sore yang tibda-tiba berubah mendung. Sepertinya cuaca hari ini todak menjamin. Siangnya panas terik sorenya udah mendung gini.
Di tengah perjalanan, rintik-rintik hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Tapi sepertinya Doni tidak terlalu memerdulikannya.
"Kok lo diem aja Kar?.", Doni membuyarkan lamunanku.
"Abis bingung mau ngomongin apaan.",
"Kar, gue mau ngomong sesuatu.", langkah kaki Doni dan aku berhenti.
Hujan pun turun sem akin deras. Secepat kilat Doni melepas jaketnya yang kemudian dipakaikan kepada ku. Doni sekarang berada didepanku,tatapan kami bertemu. Aku merasakan detak jantungku semakin tidak karuan. Aku berdoa dalam hati semoga laki-laki ini nggak akan macam-macam ditengah hujan deras begini.
"Mau ngomong apa Don?", aku berusaha bersikap biasa.
"Aku suka kamu."
dekk, jantgungku serasa lepas dari tempatnya, Nafasku tidak teratur, dan aku merasa pipi ku sangat merah.
"Ka... Kam.. Kamu lagi bercanda ya?",
"Gue nggak lagi bercanda Kar.", dia mengelus rambutku dengan lembut.
"Kenapa kamu suka sama aku?", Doni tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat dan ..
"Lo menarik Kar, lo natural, lo apa adanya. Lo nggak kayak kebanyakkan orang.",
"Tapi kita baru kenal sehari Don",
"Bagi lo sehari, bagi gue ini udah terlalu lama banget. Mungkin lo nya aja nggak nyadar.",
"Yaampun.", hening. tidak ada jawaban.
"Jadi cewek gue ya Kar?", astaga mimpi apa aku semalam?, kenapa ia datang secara tiba-tiba ke hidupku? aku juga belum lama mengenal dia. Apa ini sudah jalannya?, kalau memang dia yang terbaik, aku berharap semoga keputusan ini bukan keputusan yang salah.
Aku diam sejenak dan menjawab..
"Iya.",
Doni memelukku erat ditengah hujan ini. Anehnya, aku merasa tubuhku hangat dan nyaman berada dipeluknya.

***

21:00

Tuhan, semoga memang dia yang kau pilihkan untukku.
Semoga hanya dia yang bisa menjaga dan mengerti aku.
Kau tahu tuhan?, aku menyukai seseorang tidak memerlukan kriteria.
Aku menyukai seseorang yang tulus kepada ku.
Tuhan, jika keputusanku untuk menerima dia ialah jalan yang benar tolong satukan kami. Jika bukan dia yang terbaik untukku, jauh kan saja kami.

***

06.20

"Selamat pagi princess Karin", sapa Doni.
Pagi ini terasa lebih indah karna sekarang ada Doni disampingku.
"Kamu berlebihan deh. Jangan membuat pipi ku merah dipagi hari.",
"Hehehe , iya deh. Udah yuuk berangkat, nanti kita telat.",
"Oke."
Seperti biasa selama perjalanan Doni terus menggandeng tangan ku, seakan dia tidak mau jauh dariku sebentar saja.
"Karin?",
"Eh, iya?",
"Kamu cantik.", belum sempat aku menjawab terdengar suara klakson mobil berulang-ulang.
Dan pada saat aku menoleh kebelakang, tau-tau Doni sudah mendorongku ke pinggir sehingga dia terlempar ke tengah jalan. Aku panik saat melihat kondisi Doni yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.
***

Aroma rumah sakit yang berbau obat-obatan selalu membuatku tidak nyaman. Sesungguhnya aku tidak ingin lagi menginjakkan kaki ditempat ini, tapi karna terdesak aku paksakan.
Aku dan suster rumah sakit segera membawa Doni ke ruang UGD. Jujur,aku sangat khawatir melihat kondisi         Doni seperti ini.
"Maaf, mbak tunggu disini aja ya.", pinta suster.
"Oh,oke sus. Tolong selamatkan dia yah.", yang hanya dibalas dengan anggukkan.
YaTuhan, semoga tidak terjadi apa-apa sama Doni.

***

05:00

Aku mendapati diriku tidak dikamarku seperti biasa. Setelah mengingat kejadian apa yang sudah terjadi, aku  sadar semalaman aku menginap dirumah sakit untukl menemani Doni. Sudah ber jam-jam dia belum sadarkan diri dari koma. Aku semakin khawatir.
Ragu-ragu tapi pasti, aku masuk kekamar rawat bernomor 55 itu.
Aku melihat Doni tertidur lelap, mungkin sedang bermimpi indah. Seketika ku memperhatikkan wajahnya. Begitu tampan dan meluluhkan hati.
Walau ada beberapa luka didahi dan dipipi, itu tidak menjadi penghalang untuk mengungkapkan betapa indahnya wajah itu.

Doni terbangun,menatap kesekliling.
Menyadari dirinya yang terluka parah sedang diperban dan selang infus dihidungnya.
"Karin",
Dia memanggil namaku dan menggenggam jemariku, seakan tidak ingin kehilanganku.
Dia tersenyum dan berkata,
"Jangan sedih, mungkin waktukku didunia nggak akan lama lagi,tapi hati ini akan selalu bersama mu.",
Detik itu juga aku menangis.
"Jangan ngomong gitu! Kamu pasti sembuh Don! Kamu harus kuat! Jangan tinggalin aku.",
Air mata ku mengalir deras di pipi.
"Aku sayang kamu Karin.",
Doni kembali memejamkan mata, dan terdengar suara dari mesin ilmiah itu yang menandakan .......................
kamu telah tiada...


***

Sangat sulit menerima kenyataan kalau kamu telah tiada.
Kamu pergi terlalu cepat. Padahal aku baru saja akan mengenalmu.
Jikalau bisa aku meminta,
Aku ingin bersamamu lebih lama lagi,
Aku ingin melihat senyum indah mu lagi,
Aku ingin tahu hobby mu,
Aku ingin tahu makanan favoritmu,
Aku ingin tahu siapa artis favoritmu,
Aku ingin itu semua. Sangat ingin.
Tapi apa daya, aku tidak bisa membuatmu kembali lagi kedunia ini.
Dan satu hal yang mungkin kamu belum dengar dari ku ..
Aku juga sayang kamu Doni.
Selamat jalan....

Hujan pun turun dengan deras di pemakaman.




-Icas-